Monday, October 28, 2013

Bidik Misi yang Layu Sebelum Berkembang



BIDIK MISI, layu sebelum berkembang
Suatu pagi ketika matahari belum meninggi terdengar suara nada SMS yang sengaja ku setting. Ah.. sms dari siapa? tanyaku dalam hati. sambil jariku memainkan tombol handphone, terlihat sms dari yoksen. Oh yoksen kataku dalam hati.
Yoksen: selamat pagi bapak
Aku: pagi juga yoksen
Yoksen: apa kabar?
Aku : baik, kamu apa kabar?
Yoksen: Baik. Bapak sedang dimana?
Aku : Bpak  sedang di tempat teman, amabi oefeto timur.
Yoksen: Oh begitu
Aku: iya
aku memang tidak terlalu bersemangat membalas sms itu
yoksen : Bapak kapan ke manubelon?
Aku: Nanti pas masuk sekolah….
Waktu itu memang sedang liburan sekolah di tempatku mengabdi. Percakapanpun berlanjut.
Yoksen : Bapa tau Untad ko?
Aku : Mmm tau memang kenapa?
Jawabku mulai penasaran dan bersemangat
Yoksen :Bapak doakan B, B lulus bidikmisi di untad.
Aku : Oh ya?! Jurusan apa?
Yoksen : Kimia bapak! Tanggal 16 nanti B pi palu
Aku : Oh ya bapak doakan semoga berhasil ya
Yoksen :Makasih banyak bapak…
Aku : iya sama2 semangat ya yoksen. Kamu pasti bias
Aku senang bukan kepalang. Salah satu muridku lulus bidik misi. Masa depan yang cerah memantimu yoksen gumamku dalam kesendirian.
***
Pikiranku melayang ke massa lalu melewati batas waktu. Seolah ku pergi kembali ke masa saat pertama kali datang ke SMAN 1 amfoang barat daya. Sekolah yang terdiri dari 3 duang permanen dan 3 ruang darurat. Tak ada fasilitas lebih, slain tanah yang menghampar luas yang ditumbuhi rerumputan. Kusaksikan diriku sendiri datang ke kelas XII IPA untuk pertama kalinya.  Kelas yang berlantai pasir beratap daun dan berdinding bambu yang dibelah. Terlihat di wajah kesebelas putra putri amfoang itu rasa penasaran dan bahagia mereka dengan guru fisikanya yang baru dating, yaitu aku sendiri. Membuat guru fisika itu semangat untuk belajar bersama anak-anak itu. tak ingin membuat mereka kecewa.
pembelajaranpun berlangsung menyenangkan waktu itu. Semakin sering pertemuan kami di kelas XII IPA itu semakin mengakrabkan kami dalam suasana pembelajaran yang asik. Seolah kami sudah kenal bertahun-tahun. Rasa canggung antara murid dan guru baru mulai tertelan waktu.
Tapi dinamika terus berlanjut. kadang aku kesal juga pada anak-anak ini. susah sekali faham akan konsep tertentu dalam fisika. Suatu ketika dalam pengayaan, kami membahas suatu konsep dan mencoba menyelesaikan soal. Ketika ku Tanya mereka kebanyakan tidak faham. “siapa yang faham? tanyaku geram. Ah seharunya jangan seperti itu sesalku dalam hati. Seorang anak laki-laki menjawab “coba saya pak!”. ‘yoksen kamu kedepan!’ timpalku. Yoksen kedepan dan jawabannya kali ini benar.
Coba yoksen terangkan pada teman-teman kamu! Dengan bahasa kamu sendiri! Terserah mau bagaimana? Pintaku pada yoksen. Yoksen pun menerangkan pada taman-temannya. Penerangannya sama saja dengan yang aku sampaikan hanya dalam susunan kata yang agak berbeda dan sedikit ada bahasa daerah yang terlontar dari mulutnya. Tak berapa lama teman-tamannya bilah “oooohh…” tanda mengerti. ‘Ah… apa bedanya dengan konsepku’ ucapku dalam hati. Tapi mungkin karena susunan kalimat dan bahasa yang agak berbeda denganku mereka kurang faham. Yoksen memang termasuk yang pintar selain seorang putri yang bernama widya wenyi. Pertemuan-pertemuan berikutnya ketika kuterangkan konsep dan mereka belum faham. Kutanya yoksen. Jika dia faham maka aku minta dia menerangkan kepada teman-temannya dengan bahasa dan susunan kalimat mereka.
***
“hey!’ ucap temanku sekaligus menarikku dari masa lalu kembali kemasa kini. Ah kamu memang anak yang cerdas yoksen! Gumamku. Akhir pertemuan ku dengan murid-muridku tercinta adalah ketika perpisahan kelas tiga. Mereka semua lulus. Ah wajar mereka lulus semua ucapku dalam hati. Toh ini hanya ujian nasional, tidak terlalu sulit. Tapi kecerdasan yoksen lagi-lagi dibuktikan dengan lulusnya dia menembus bidikmisi yang tentu saja lewat ujian snmptn.
Hari-hari liburan sekolahpun habis satu per satu. Tak terasa hanya tersisa satu hari. Tangan 18 juli besok aku harus kembali ke kampong tempat sekolah ku berada. Karena memang jatah libur waktu itu hanya sampai 18 juli 2012. Seperti keberangkatanku yang pertama, aku harus bangun subuh dan naik oto* yang menuju kampong tepat jam 5 karena hanya ada 3 mobil yang lewatk ke kampungku. semuanya berangkat jam 5 pagi. Ah perjalanan yang akan melelahkan pikirku. Karena perjalanan akan ditempuh dalam waktu 8 jam jika lancer. Setengah hari lebih.
Ditengah perjalanan mobil yang ku niaki mogok. Dan seluruh penumpang harus turun. Aku melihat salah satu muridku yang baru lulus ujian nasional kemarin. Kami ngobrol kesana kemari tentang sekolah, kuliah dan sebagainya. Aku ingat yoksen hari ini berangkat ke Untad,  Palu. Kutanyakan perihal itu ada muridku itu. Betapa terkejutnya aku ketika kudengan yoksen tidak jadi berangkat. Aku penasaran kenapa yoksen tidak jadi berangkat. Padahal beasiswa bidikmisi merupakan beasiswa penuh hingga selesai sarjana. Ah… kenapa tidak berangkat! Gumamku sangat geram.
Segera kucari nama yoksen di kontak hpku. Kukirim pesan padanya
Aku: yoksen! Kamu jadi berangkat hari ini ke untad palu?! Kenapa?
Yoksen: Tidak jadi pak!
Aku : Kenapa? Apa persyaratannya ada yang kurang?
Yoksen: Bukan pak, ongkos untuk pesawatnya kurang. Dan saya tidak bisa pulang lagi ke kampong untuk ambil uang. Hari ini terakhir daftar ulang bapak. Di kampun juga son2) ada uang.
Aku : Memangnya berapa tiket pesawatnya? (ku pukir hanya 600 atau 800 ribu seterti kupang – Jakarta. Mungkin aku bias membantu. Kebetulan masih tersisa sedikit uang.)
Yoksen : Tiketnya 3,5 juta bapak sampai ke palu.
Ah besar sekali. Kukira hanya 600 ribu atau 800 ribu. Uangku waktu itu memang sudah menipis juga karena sebagian sudah dikirim untuk keluarga di rumah. Aku geram kesal. AAARRGH tapi tak tahu entah kesal pada siapa. Pada diriku sndiri mungkin karena tak bias bern=buat apa-apa.
Kamu tidak pinjam dulu ke sodara kamu di kupang?
Son ada sodara bapak. Mereka ju son ada uang na…
Ah sudahlah. Aku menyerah dan kalah pada keadaan. Memang harus ada jalan lain. Kalimat terakhir yang aku katakana pada dia ‘tuhan pasti punya rencana lain yang lebih baik untuk kamu yoksen’. Terakhir kudengar dia bekerja sebagai teknisi listrik di kota kupang.


No comments:

Post a Comment